Impian PhD di Jepang terwujud dengan dukungan penuh Beasiswa Luar Negeri Dikti

IMG_3381

 

Adalah sebuah kehormatan yang besar yang diberikan oleh Pengelola Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Luar Negeri (BPP-LN) Kemenristek-Dikti kepada saya untuk menuliskan testimoni perjalanan studi S3 di Jepang dengan dukungan penuh BPP-LN Dikti, Batch-1, April 2013.

Dalam rangka mewujudkan misi Insitut Pertanian Bogor (IPB) sebagai universitas kelas dunia, pimpinan IPB (baik pada level Departemen, Fakultas dan Institut), memotivasi, mendorong dan memberi dukungan yang penuh kepada para dosen muda untuk menuntut ilmu ke manca negara. Pada saat yang bersamaan, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional (sekarang Kemenristek-Dikti) membuka banyak peluang beasiswa untuk studi lanjut ke jenjang S2 dan S3 baik di dalam maupun di luar negeri. Saya mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dengan mengikuti program English for Academic Purposes (EAP) dan kursus persiapan International English Language Test Systems (IELTS) di Pusat Pelatihan Bahasa, Universitas Gadjah Mada  (PPB-UGM) selama kurang lebih 4 bulan. Program ini didanai dan difasilitasi penuh oleh Dikti. Para Dosen dan Staf Kependidikan di PPB-UGM bekerja dengan sangat profesional di dalam menyiapkan kami untuk memasuki level internasional. Alumni dari pusat pelatihan bahasa ini telah tersebar di banyak negara dan benua. Terima kasih yang tulus kepada para guru kami dan staf di PPB-UGM.

 

Sebelum mengajukan aplikasi lamaran BPP-LN Dikti, hal yang paling penting selain penguasaan bahasa Inggris adalah rencana studi yang sudah mendapatkan persetujuan dari calon pembimbing di luar negeri, termasuk surat yang membuktikan bahwa kami telah diterima sebagai calon mahasiswa baik oleh supervisor dan universitas. Saya mendapatkan bantuan dari salah satu Dosen di UGM (Bapak Dr. Djumanto) untuk mendapatkan calon pembimbing di Jepang.  Secara parallel, saya mengirimkan aplikasi BPP-LN Dikti dan aplikasi ke Kochi University, Jepang. Saya menerima surat pemberitahuan dari Kochi University bahwa saya telah diterima menjadi mahasiswa di universitas ini tanpa melalui entrance examination dan akan langsung masuk program PhD tanpa harus melalui Research Student (RS), lebih dahulu dari pengumuman lolos tahap administrasi BPP-LN Dikti. Tahap berikutnya adalah wawancara dalam bahasa Inggris di Gedung D, DIKTI. Pada saat wawancara tersebut kami diingatkan bahwa BPP-LN Dikti hanya untuk karyasiswa, tidak ada tunjangan keluarga buat calon karyasiswa yang sudah berkeluarga. Sayapun mendapatkan kepercayaan untuk melanjutkan studi ke Kochi University lewat dukungan BPP-LN Dikti batch-1, April 2013. Kala itu, ada sebuah issue yang beredar bahwa kalau mau sekolah ke luar negeri dengan beasiswa Dikti, maka harus menyiapkan sejumlah uang pribadi, karena beasiswa Dikti pasti dan selalu terlambat. Keputusan sudah saya ambil, keluarga akan tinggal di Indonesia, dan saya siap berangkat dengan berbekal surat jaminan dari Dikti (guarantee letter-GL) dan sejumlah uang untuk antisipasi jika sekiranya beasiswa Dikti terlambat.

 

Motto IPB: “Mencari dan Memberi yang Terbaik” menjadi inspirasi utama saya untuk mencari dan memberi yang terbaik di dalam menjalani program PhD di bidang Marine Bioresoures Science, Graduate School of Kuroshio Science, Kochi University. Ada beberapa keterkejutan sebenarnya yang saya alami ketika menjalani studi di sini.  Harus diakui bahwa jika dibandingkan dengan kelengkapan dan modernitas alat dan fasilitas riset di luar negeri, fasilitas dan alat di laboratorium di kampus saya masih jauh tertinggal, sehingga dituntut untuk banyak belajar hal baru dan metode baru. Keterkejutan berikutnya adalah pola kerja dan etos kerja yang harus menyesuaikan irama pembimbing yang luar biasa hebat, bekerja siang dan malam tanpa mengenal hari libur. Pembimbing saya adalah tipe yang perfectionist dan workaholic. Alhasil, tanpa saya sadari, irama kerja dan etos kerja sayapun mengikuti jejak beliau. Satu hal yang menarik dari sistem kerja dan pendidikan di Jepang adalah kerja sama tim yang sangat solid. Hal ini saya alami dan rasakan langsung baik ketika bekerja di lapangan (survey) di Pasific Ocean, Tosa Bay-Kochi dan Ariake Bay-Kyushu maupun ketika bekerja di laboratorium. Kochi University memberi saya kesempatan menjadi Research Assistant (RA) di Usa Institute of Marine Biology, Kochi University sejak awal menjadi PhD student sampai Februari 2016. Kesempatan menjadi RA adalah peluang emas untuk menggali banyak pengetahun, keterampilan dan filosofi termasuk cara berpikir seorang peneliti yang benar. Kepercayaan berikutnya yang diberi oleh universitas adalah menjadi Teaching Assistant (TA) di akhir perjalanan studi (semester 5-6). Kesempatan emas untuk bisa berbagi ilmu, berdiskusi, dan belajar bersama dengan mahasiswa S1 dan S2 dari berbagai universitas di Jepang yang melakukan praktek di Tosa Bay dan praktikum di Usa Institute of Marine Biology, Kochi University.

 

Pada saat yang bersamaan, kemajuan studi selalu dievaluasi oleh pembimbing. Setiap hari harus ada data dan kemajuan yang berarti. Kemajuan studi secara berkala dipresentasikan kepada pembimbing dalam seminar/diskusi di laboratorium (zemi). Data hasil penelitian harus diseminarkan dalam berbagai ajang pertemuan ilmiah, baik skala internasional dan se-Jepang. Awalnya memang sangat berat, kadang ada rasa jenuh dan ingin berhenti sesaat. Namun frase berikut sangat menguatkan “There is no royal road to learning”. Idiom ini mengingatkan saya bahwa menjadi seorang doktor itu tidaklah mudah, dibutuhkan kerja keras yang terus menerus, ketekunan, dan keingin tahuan yang besar.  Keluarga adalah motivasi yang terbesar untuk tetap bertahan ketika menghadapi banyak masalah, tantangan dan rintangan dalam perjalanan studi. Bersyukur untuk keluarga di Indonesia yang terus mendoakan dan memberi dorongan untuk tidak menyerah, maju terus dan terus berprestasi. Saya sendiri kaget, karena ternyata selama menjalani studi hampir tiga tahun di Jepang, saya sudah presentasi hasil riset di pertemuan ilmiah internasional (International symposium on Kuroshio Science), pertemuan ilmiah tahunan peneliti larva ikan se-Jepang (Japanese Fish Larval Studies Group), pertemuan ilmiah tahunan masyarakat Iktiologi se-Jepang (The Ichthyologial Society of Japan-ISJ) dan pertemuan ilmiah masyarakat perikanan se-Jepang (The Japanese Society of Fisheries Science-JSFS), dan mempublikasikan salah satu dari beberapa kebaharuan dalam riset S3 di jurnal internasional (Ichthyological Research). Bimbingan yang keras, penuh disiplin dan terarah dari pembimbing ternyata membuahkan banyak hasil. Hasil didikan inipun saya alami dengan lulus open defense dan final examination pada tanggal 27 Januari 2016 dan secara resmi dinyatakan lulus program PhD pada tanggal 10 Februari 2016.

 

Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya. Frase ini sangat membekas dalam perjalaan studi yang saya alami. Sejak April 2013, kami karyasiswa batch-1 BPP-LN 2013 membuat grup di jejaring sosial, yang dimotori oleh sahabat baik saya, Bapak Fritz Ahmad Nuzir, PhD (Kitakyushu Univ., Japan). Grup ini kami kembangkan menjadi wadah untuk saling menyemangati, saling berbagi informasi dan menolong jika ada karyasiswa yang butuh bantuan. Terima kasih untuk para sahabat baik saya di admin FB BPP-LN 2013 (Ibu Sri Mariyani, PhD, Bapak Ashar, PhD, Ibu Devita Leksono, MSc, Bapak Andi Diswandy, PhD-cand, Bapak Catur Sugiarto PhD-cand, dan Bapak Henra Susanto, PhD-cand).  Kehadiran PKDLN (Perhimpunan Karyasiswa Dikti di Luar Negeri) yang dimotori oleh Bapak M. Nasir Sonni, PhD-cand juga menjadi wadah untuk saling menyemangati, saling berbagi informasi dan menolong sesama karyasiswa dari lintas angkatan. PKDLN menjadi wadah resmi karyasiswa BPP-LN Dikti untuk berkomunikasi dengan pengelola BPP-LN Dikti di Jakarta. Berharap PKDLN tetap berjalan di dalam visi dan misi awal, sebagaimana perhimpunan ini kami bentuk dua tahun yang lalu.

 

Menurut pendapat saya, pelayanan BPP-LN Dikti mengalami kemajuan yang sangat signifikan. Di awal tahun perjalanan studi, saya pernah terlambat membayar Tuition Fee (TF) karena kiriman dari Dikti terlambat, namun tidak pada semester berikutnya. Jika dikatakan bahwa pelayanan BPP-LN Dikti tidak ada perubahan yang signifikan, saya kira itu mengada-ada.  Pelayanan memang belum sempurna, namun progress yang sangat baik harus kita apresiasi, seperti Progress Report yang awalnya dibuat sendiri oleh Karyasiswa Dikti, lalu diharui dan dibuatkan template yang sangat praktis oleh Dikti.  Pola dan layanan komunikasi yang semakin aktif antara pihak pengeloa BPP-LN Dikti dan karyasiswa Dikti adalah fakta yang harus diakui. Demikian juga dengan pencairan dana beasiswa, semakin ke sini semakin lebih baik. Semenjak tahun 2014, Dikti memberi kebijakan untuk memberikan tunjangan keluarga bagi Karyasiswa BPP-LN Dikti tahun 2014 ke atas. Salah satu tujuan mulianya adalah agar calon karyasiswa Dikti yang telah berkeluarga dapat membawa keluarga ke luar negeri. Kami dari PKDLN maupun dari grup admin FB BPP-LN 2013 juga mengupayakan agar karyasiswa Dikti angkatan di bawah tahun 2014 (angkatan 2013 dan 2012 misalnya) yang membawa keluarga juga mendapatkan dukungan berupa tunjangan keluarga, meskipun memang harus kami akui bahwa saat wawancara kami telah sepakat bahwa tidak ada tunjangan keluarga. Saya pribadi melihat perjuangan berat kawan-kawan karyasiswa Dikti 2013 dan 2012 yang membawa serta keluarga ke luar negeri. Jika memungkinkan, kawan-kawan ini diberi peluang untuk mendapatkan tunjangan keluarga di semester yang akan datang.

 

Hari ini, Rabu 23 Maret 2016 adalah perayaan kerja keras, ketekunan, dan semangat yang pantang menyerah yang ditandai dengan penganugerahan ijazah PhD dari Kochi University. Saya tidak akan mungkin sampai pada momen ini, jika tidak ada dukungan dari Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kemenristek-Dikti yang memberikan dukungan BPP-LN. Sewaktu penyampaian Graduation speech tadi, saya dengan tegas menyatakan bahwa saya bisa studi dan meraih gelar PhD di Kochi University karena ada dukungan beasiswa dari Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kemenristek-Dikti. Terima kasih yang tulus kepada Kemenristek-Dikti dan Pengelola BPP-LN Dikti di Ditjen Sumberdaya Iptek dan Dikti yang terus memberi dukungan dan semangat kepada kami karyasiswa Dikti. Terima kasih kepada Bapak Jhon Pariwono, Ibu Fine Resyalia dan Ibu Citra Amitiurna yang selalu memberi dorongan semangat serta bersedia berkomunikasi dan berdiskusi via e-mail. Terima kasih kepada Pimpinan IPB, dosen dan staf yang terus mendukung perjalan studi kami dosen muda IPB yang menuntut ilmu baik di dalam maupun di luar negeri. Saatnya untuk kembali ke tanah air, mengembangkan ilmu dan mengabdikannya untuk kemajuan Ibu Pertiwi. Pro Deo et Patria.

 

Salam hangat penuh semangat,

 

Kochi, 23 Maret 2016

Charles P. H. Simanjuntak, PhD.

Karyasiswa BPP-LN Dikti, Batch-1, April 2013

Lektor di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB

 

 

 

 

Blog Attachment