Kewajiban Penerima Beasiswa Menurut Karyasiswa BULN DIKTI

Jika pada testimoni dari para senior penerima beasiswa DIKTI (dalam hal ini khususnya Beasiswa Unggulan DIKTI dan saya sebagai salah satu karyasiswanya) membahas tentang proses pencairan dana (testimoni oleh mas Puguh Wahyu Prasetyo) dan sistem manajemen beasiswa (oleh mas Satya Candra Wibawa Sakti) maka pada testimoni kali ini saya ingin berbagi dan mengulas perihal kewajiban sebagai seorang karyasiswa penerima beasiswa, dengan mengesampingkan permasalahan teknis yang seringkali berada di luar wilayah dan kemampuan karyasiswa.

Beasiswa DIKTI sama seperti halnya jenis beasiswa yang lain adalah pemberian berupa bantuan keuangan yang diberikan kepada perorangan yang bertujuan untuk digunakan demi keberlangsungan pendidikan yang ditempuh. Dilihat dari sisi penerima, beasiswa adalah bentuk kepercayaan dari DIKTI kepada karyasiswa untuk menggali potensi akademik dan juga menimba ilmu dan pengalaman di negara tujuan maupun di dalam negeri. Tanpa mengurangi makna dari beasiswa itu sendiri sebagai pemberian, jika melihat dari sumber pendanaannya maka kepercayaan itu semakin terasa berat membayangkan bahwa dana yang saya gunakan untuk menempuh pendidikan berasal dari pendapatan negara, yang secara langsung maupun tidak langsung bersumber dari pajak perorangan/institusi di Indonesia.

Sebagai seseorang yang pernah menerima beasiswa dari institusi lain sebelumnya, saya merasakan betul bagaimana DIKTI “sangat toleran” terhadap karyasiswa-nya. Sebagai contoh, pernahkah secara spesifik ada aturan keras yang mewajibkan karyasiswa untuk tidak memiliki suatu barang privat (misal: kendaraan)?, mengatur/mengontrol kehidupan karyasiswanya?, atau mengharuskan karyasiswanya untuk datang dan melaporkan “progress report” ke markas besar/headquarter dari institusi pemberi dana? Saya rasa tidak dan belum pernah saya temui. Maka bentuk kepercayaan yang sedemikian besarnya saya kembalikan dengan toleransi terhadap segala permasalahan sistem dan pencairan dana, yang saya akui, jika saya berada dalam posisi DIKTI, belum tentu saya bisa melakukan hal yang lebih baik dari ini. Lalu, jika dilihat dari sisi nominal pun, dana yang diberikan kepada setiap karyasiswa setara atau melebihi dari nominal yang bisa didapatkan untuk sebagian besar beasiswa ternama lainnya dengan segala fasilitas tambahan seperti asuransi dan buku. Bukankah skema tersebut dapat disebut sebagai ideal?

Masih jelas terekam dalam ingatan saya bagaimana proses melamar beasiswa DIKTI, pemberkasan dan penandatanganan beasiswa. Proses yang panjang dan melelahkan, terlebih dengan biaya transportasi yang harus saya keluarkan untuk mengikuti seluruh proses tersebut (pada saat itu posisi saya berada di negara tujuan, dan baru saja dinyatakan lulus program pascasarjana). Saya yakin, setiap karyasiswa pasti mempunyai cerita tersendiri dalam proses ini dan meyakini perjuangan untuk memperolehnya tidaklah mudah. Dan setelah dinyatakan lulus sebagai penerima beasiswa pun, apakah semangat itu masih tetap sama? Apakah menerima beasiswa saja merupakan tujuan akhir dari semua usaha? Tentu tidak.

Pernahkah kita membandingkan diri dengan orang lain yang menempuh pendidikan di tempat yang sama dengan biaya sendiri, ataupun dengan pinjaman negara (yang harus dikembalikan, dicicil per bulannya dari pendapatan mereka nanti setelah bekerja)? Situasi yang kita hadapi jauh lebih baik karena sudah ada “jaminan finansial”. Jadi, terlepas dari opini yang kontroversial atau tidak, saya ingin mendoakan rekan-rekan penerima beasiswa DIKTI yang budiman agar dapat senantiasa memelihara semangat untuk menimba ilmu dan tidak terlena dengan status penerima beasiswa, terutama BPLN/BPP-LN (sebelumnya bernama beasiswa unggulan luar negeri DIKTI) karena tantangan yang diberikan jauh lebih berat dari hanya sekedar status bisa kuliah ke luar negeri dan menerima beasiswa. Setelah lulus pun, kita masih harus membuktikan bahwa gelar itu tiada berarti tanpa aplikasi dan imbal balik yang sesuai dengan kemampuan kita.

Kepada Tim Beasiswa Unggulan DIKTI saya mengucakan ucapkan terima kasih atas bantuanya. Anda semua telah membantu mengubah hidup saya.

 

Penerima Beasiswa Unggulan LN DIKTI 2012