Kuraih gelar Doctor di Jepang melalui Beasiswa Unggulan DIKTI 2012

Pada saat menempuh program S2 Ilmu Kimia, saya berkesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke Universitas Hokkaido di Jepang. Pengalaman-pengalaman berharga dalam riset maupun kehidupan sehari-hari yang saya dapatkan selama mengikuti program pertukaran pelajar membuat saya ingin kembali ke Jepang untuk menempuh pendidikan S3. Pertanyaan terbesar saat itu adalah dari mana saya akan memperoleh beasiswa yang bisa membantu saya selama menempuh pendidikan S3.

            Saya mencari informasi mengenai beasiswa-beasiswa yang mungkin dapat membantu saya dalam menempuh program S3. Pada saat itu tidak terbesit dalam diri saya untuk melamar beasiswa DIKTI. Beasiswa DIKTI pada umumnya ditawarkan hanya untuk dosen dan tenaga pendidikan dibawah DIKTI, sedangkan saya adalah seorang fresh graduate. Disamping itu banyaknya ulasan negative mengenai beasiswa DIKTI membuat saya berfikir dua kali untuk mendaftar.

            Beberapa professor menyarankan saya untuk mengikuti seleksi Beasiswa Unggulan DIKTI 2012. Beasiswa Unggulan DIKTI merupakan beasiswa yang dipersiapkan DIKTI untuk membantu para calon dosen di perguruan tinggi dibawah DIKTI dalam menempuh studi lanjut S2 atau S3 baik di dalam maupun di luar negeri. Saya mendaftar Beasiswa Unggulan DIKTI sebagai calon dosen di Universitas Negeri Yogyakarta dengan menggunakan rekomendasi dari Rektor Universitas Negeri Yogyakarta. Seluruh proses seleksi berhasil saya lalui dan Beasiswa Unggulan 2012 pun saya dapatkan. Menjelang keberangkatan saya harus bolak-balik Yogyakarta-Jakarta hanya untuk mengurus dokumen-dokumen penunjang seperti guarantee letter dan surat pengantar untuk SK SETNEG. Saya sempat berfikir jika proses seperti ini membutuhkan waktu lama, lalu bagaimana dengan pencairan beasiswa nantinya. Saya khawatir saya akan mengalami keterlambatan beasiswa seperti pengalaman teman-teman penerima beasiswa DIKTI lainya.

            Saya menjadi ingin tahu mengapa proses di DIKTI sangat lambat dan mengapa keterlambatan beasiswa sering kali terjadi. Saya berkesempatan mengunjungi kantor DIKTI untuk menanyakan beberapa hal tersebut. Saya terkejut hanya ada sekitar 8 orang petugas yang bekerja untuk mengurusi seluruh penerima beasiswa DIKTI baik didalam maupun diluar negeri. Seluruh tahapan proses beasiswa mulai dari pendaftaran, seleksi, penerimaan hingga pembayaran beasiswa ditangani dengan jumlah petugas yang terbatas. Khusus pembayaran beasiswa, DIKTI hanya sebagai perantara antara karyasiswa dengan KPPN (Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara). DIKTI bertugas untuk memastikan bahwa KPPN akan membayar beasiswa kepada karyasiswa yang tepat. Acap kali keterlambatan terjadi karena terdapat kesalahan informasi terkait rekening karyasiswa. Kesalahan karyasiswa dalam memberikan informasi rekening bank membuat KPPN tidak dapat menyalurkan beasiswa. Pada kasus seperti ini DIKTI harus mengkonfirmasi kepada karyasiswa, melakukan koreksi dan meminta KPPN untuk melakukan pembayaran ulang.

            Selama saya menempuh program S3, Alhamdulillah saya hanya mengalami keterlambatan beasiswa sebanyak satu kali. Pada saat itu DIKTI yang semula berada dibawah Kemendikbud pindah ke Kemenristek dan menjadi Kemenristek DIKTI sehingga terjadi penyesuaian anggaran dan itupun sudah diinformasikan sebelumnya sehingga saya bias mempersiapkan diri. Beasiswa Unggulan DIKTI yang saya terima bahkan lebih besar jumlahnya dibandingkan beberapa jenis beasiswalainya. Komponen tambahan seperti uang buku dan asuransi kesehatan juga saya dapatkan. Beasiswa saya terima secara lancer hingga saya menyelesaikan program S3. Pandangan saya mengenai beasiswa DIKTI pun berubah. Professor pembimbing S3 saya bahkan merekomendasikan beasiswa DIKTI kepada beberapa calon mahasiswanya yang berasal dari Indonesia.

            Tidak ada sistem di dunia ini yang benar-benar sempurna, takterkecuali system pengelolaan beasiswa DIKTI. Berkaca dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, perbaikan di berbagai segi telah dilakukan oleh DIKTI melalui tim kecilnya. Kita dapat membantu DIKTI untuk melakukan perbaikan dengan memberikan kritik dan saran. Tentu saja kritik dan saran tersebut bersifat konstruktif dan seyogyanya disampaikan dengan bahasa yang santun. Kita mungkin mengalami permasalahan dalam menerima beasiswa seperti keterlambatan atau jumlah yang tidak sesuai. Permasalahan tersebut harus cepat diselesaikan terutama bagi kita yang menggantungkan keberlangsungan studi pada lancarnya beasiswa. Akan tetapi itu tidak bias menjadi alas an bagi kita untuk mengkritik secara tidak santun dengan menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya. Percayalah bahwa DIKTI telah dan akan terus berusaha sebaik mungkin untuk memastikan beasiswa tersalurkan dengan lancar.

            Saya berdoa agar semua karyasiswa penerima beasiswa DIKTI dapat menyelesaikan studinya dengan lancer dan tepat waktu. Semoga ilmu yang didapat akan menjadi berkah dan berguna untuk membangun negara. Kepada Tim Beasiswa Unggulan DIKTI saya ucapkan terimakasih atas bantuanya dan selamat berkarya.

Satya Candra Wibawa Sakti, Ph.D
Penerima Beasiswa Unggulan DIKTI 2012