Bolehkah berprasangka baik terhadap beasiswa DIKTI?

Sahabat yang baik dan budiman, khususnya DIKTIers yang sedang menempuh studi pascasarjananya baik yang di dalam negeri maupun luar negeri. Sudah menjadi rahasia umum bahwa beasiswa DIKTI sering tertunda pembayarannya, itu pun juga saya alami ketika menempuh program S2 Matematika. Ketika itu saya mendapatkan program beasiswa unggulan dikti 2011.

Seringkali saya mengecek rekening dan masih nihil, dan pada akhirnya kecewa mengapa uang beasiswa tidak cair-cair. Kemana uang beasiswa saya mengalir? Ini pertanyaan yang ada di benak saya. Saya mencoba mencaritahu faktanya, saya mencoba untuk menghubungi DIKTI menanyakan hal itu, jawabnya singkat yaitu masih proses pencairan.

Sebagai manusia yang jauh dari kesempurnaan, saat itu terbesit jangan-jangan di depositokan uangnya? Hmm… Bagaimana ini bisa terjadi? Setiap kali pertanyaan tersebut terbesit saya berusaha membuang jauh-jauh karena saya belum mendapatkan kejelasan bagaimana proses pencairan beasiswa DIKTI.

Ternyata Allah Yang MahaKuasa yang menjawab. Suatu ketika saya melaporkan diri bahwa saya telah lulus S2, akan tetapi belum mempunyai homebase yang mengangkat saya sebagai dosen tetap. Jawaban dari DIKTI adalah silakan datang ke kantor untuk membantu administrasi beasiswa DIKTI.

Alangkah terkejutnya saya dan bahagia, saya akan mendapatkan jawaban tentang fakta proses pencairan beasiswa DIKTI ketika mengabdi di sana.

Benar saja, pencairan beasiswa DIKTI termasuk dalam kategori rumit, karena sesungguhnya uang beasiswa tidak ada di DIKTI,  sepeserpun. Nah, lalu dari mana asalnya?

Sahabat yang baik dan budiman, ketika saya mengabdikan diri sebagai administrator beasiswa dikti, saya termasuk salah seorang yang mendapatkan tugas untuk mencetak kontrak beasiswa pascasarjana baik dalam negeri maupun luar negeri. Masya Allah, ternyata segelintir orang saja yang harus mengurus ribuan karyasiswa. Dari mencetak kontrak, mengundang pimpinan-pimpinan universitas untuk menandatangani kontrak beasiswa dalam negeri, bayangkan ada berapa universitas?, mengundang masing-masing karyasiswa yang akan studi di luar negeri, bayangkan ada berapa orang? Kemudian menyusun kontrak-kontrak tersebut, dijilid kemudian dibuatkan SPM (Surat Perintah Membayar). SPM ini ditujukan ke KPPN (Kantor pelayananPerbendaharaan Negara). Nah, KPPN-lah yang mencairkan dana pendidikan. Jika sudah dicairkan, KPPN akan menerbitkan SPPD (Surat Perintah Pencairan Dana). Setelah DIKTI menerima SPPD dari KPPN saya termasuk yang mendapatkan tugas untuk scan SPPD sebagai bukti bahwa beasiswa telah cair, bayangkan berapa ratus SPPD?

Proses serumit ini perlu kita sadari bahwa hal inilah yang dapat menjaga aliran anggaran Negara kepada pihak yang bertanggungjawab dan yang benar-benar berhak yang tercantum dalam kontrak beasiswa. Belum lagi jika saudara sekalian dalam kontrak tersebut memberikan nomor rekening yang salah, digit satu saja akan mengakibatkan retur/pengembalian dan solusinya DIKTI harus mengajukan lag ike KPPN dengan ralat nomor rekening yang ada dalam kontrak beasiswa.

Tak lama saya mengabdi di DIKTI, kurang lebih 5 bulan saja. Akan tetapi saya cukup puas, karena saya telah mendapatkan fakta bagaimana proses pencairan dana beasiswa DIKTI. Untuk saat ini beasiswa unggulan DIKTI berganti nama menjadi BPPDN calon dosen. Dan kabarnya tahun ini ada kerjasama dengan LPDP. Untuk proses pencairan BPPDN dosen, secara umum sama dengan yang saya sampaikan di atas.

Sahabat yang baik dan budiman. Dalam hidup ini, kita pasti sering menemui pilihan-pilihan. Tetapi, kadang kita tidak bisa memilih dalam beberapa hal termasuk mengapa kita dilahirkan di Negara ini, Indonesia tercinta. Dengan tidak adanya pilihan, ini berarti Allah Yang Maha Kuasa telah menjamin bahwa negeri ini adalah tempat yang terbaik bagi kita.

Jadi perlu diingat kembali, Indonesia adalah Negara yang telah Allah sediakan dan titipkan untuk disyukuri. Karena kita bagian dari Negara Indonesia ini. Sungguh tidak patut rasanya jika kita hanya mengeluhkan kondisi bangsa kita ini. Dan jangan biarkan diri kita ini diliputi rasa curiga dan prasangka. Sebagian prasangka adalah dosa terlebih lagi jika kita belum tahu tentang fakta yang terjadi.

 

 

 

Puguh Wahyu Prasetyo

Penerima BPP-DN Angk.2011

Dosen Tetap pada STKIP Surya Tangerang